Mengenal Konsep Dasar Pendidikan Masyarakat
Sebelum membahas tentang Konsep Dasar Pendidikan Masyarakat saya mau memperkenalkan diri saya dulu niii, Nama saya Jihan Sunita salah satu mahasiswa Universitas Negeri Medan Jurusan Pendidikan Masyarakat. Saya sangat tertarik dengan jurusan ini karna ingin mengetahui sebanarnya apa si Pendidikan Masyarakat karna saya sangat suka dibidang masyarakat atau sosial gitu teman-teman.dan setelah saya masuk di Pendidikan Masyarakat saya sangat merasa pas banget dengan minat saya selama ini dan yang paling saya suka adalah jika melakukan observasi mulai dari wawancara dengan masyarakat dan mengetahui sebanarnya apa saja kebutuhan dan permasalahan di masyarakat itu sendirii lhoooo..Pokoknya seru bangettt dehhhh,Sebelum kalian mengenal jauh tentang Pendidikan Masyarakat Kalian harus tahu dulu tentang Konsep Dasar Pendidikan Masyarakat. yuk kita mulai!!
Konsep pendidikan luar sekolah dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, tetapi dapat memperkaya pengembangan konsep tersebut. Sudut pandang yang pertama adalah konsep konvesional berdasarkan kebiasaan dan proses pendidikan dimana menurut pandangan ini pendidikan luar sekolah dapat dipahami secara berdampingan dengan pendidikan persekolahan. Keduanya dibandingkan kemudian dilihat perbedaan dan persamaannya. Pandangan yang pertama ini di satu pihak secara jelas dapat memberikan gambaran tentang apa yang ada dalam kegiatan pendidikan luar sekolah, mempermudah analisis perbandingan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah, memberikan gambaran dari perancang strategi pendidikan luar sekolah. Namun dipihak lain tidak secara gamblang melukiskan kompleksitas pendidikan, serta secara implisit mengandung bias yang mempertentangkan pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah. Sudut pandang yang kedua adalah dinamika kesadaran tujuan dalam proses pendidikan. Menurut pandangan ini pendidikan tidak dapat diklasifikasikan menjadi pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah tanpa diperhitungkan inti dari proses sebagai satu fungsi dari kesadaran tujuan sumber belajar (pendidikan) dan warga belajar peserta didik.
Alasan terselenggaranya PLS dari segi kesejarahan, tidak bisa lepas dari lima aspek yaitu :
1) Aspek Pelestarian Budaya
Pendidikan Luar Sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Kegiatan inilah yang asli yang termasuk ke dalam katergori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.
2) Aspek Teoritis
Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), bahwa pada intinya PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.
3) Dasar Pijakan
Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa PLS adalah kumpulan individu yang membentuk kelompok dan memiliki tujuan yang sama untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar.
4) Aspek Kebutuhan Terhadap Pendidikan
Kesadaran pada masyarakat akan pentingnya pendidikan dipengaruhi karena perasaan tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang mengharuskan suatu keterampilan dan keahlian tertentu untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan.
5) Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah
Lembaga pendidikan sekolah terbatas oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku maka dari itu diselenggarakan kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi
1) Aspek Pelestarian Budaya
Pendidikan Luar Sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Kegiatan inilah yang asli yang termasuk ke dalam katergori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.
2) Aspek Teoritis
Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), bahwa pada intinya PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.
3) Dasar Pijakan
Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa PLS adalah kumpulan individu yang membentuk kelompok dan memiliki tujuan yang sama untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar.
4) Aspek Kebutuhan Terhadap Pendidikan
Kesadaran pada masyarakat akan pentingnya pendidikan dipengaruhi karena perasaan tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang mengharuskan suatu keterampilan dan keahlian tertentu untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan.
5) Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah
Lembaga pendidikan sekolah terbatas oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku maka dari itu diselenggarakan kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi
Pendidikan Luar Sekolah Punya 10 Patokan:
1) Warga Belajar: anggota masyarakat yang ikut dalam satu kegiatan pembelajaran
2) Sumber Belajar: orang yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kemampuan manusia yang ada dilingkungannya
3) Pamong Belajar: tokoh masyarakat yang mengatasi program pembelajaran masyarakat di sekitarnya
4) Sarana Belajar :Tempat untuk melakukan proses pembelajaran
6) Dana Belajar: uang atau materi yang digunakan dalam proses pembelajaran
7) Ragi belajar :rangsangan yang mampu membangkitkan semangat belajar
2) Sumber Belajar: orang yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kemampuan manusia yang ada dilingkungannya
3) Pamong Belajar: tokoh masyarakat yang mengatasi program pembelajaran masyarakat di sekitarnya
4) Sarana Belajar :Tempat untuk melakukan proses pembelajaran
6) Dana Belajar: uang atau materi yang digunakan dalam proses pembelajaran
7) Ragi belajar :rangsangan yang mampu membangkitkan semangat belajar
8) Kelompok belajar :sekelompok warga belajar yang memiliki tujuan yang sama dalam pembelajaran
9) Program belajar: isi, cara, tujuan, metode pembelajaran
10) Hasil belajar :tujuan akhir/akhir dari yang dikuasi dari proses pembelajaran
10) Hasil belajar :tujuan akhir/akhir dari yang dikuasi dari proses pembelajaran
Pendidikan nonformal sebagai suplemen, komplemen, dan substitusi pendidikan formal
Sebagai suplemen berarti penambah atau tambahan. Dimana pendidikan nonformal berperan sebagai tambahan materi daripada yang didapatkan di pendidikan formal.
Sebagai komplemen berarti pelengkap atau melengkapi. Dimana pendidikan nonformal sebagai pelengkap yang berperan melengkapi apa-apa yang diajarkan dalam pendidikan formal. Sebagai substitusi berarti pengganti atau menggantikan. Dimana pendidikan nonformal berperan sebagai pengganti/menggantikan pendidikan formal karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan formal/pendidikan sekolah.
Sebagai suplemen berarti penambah atau tambahan. Dimana pendidikan nonformal berperan sebagai tambahan materi daripada yang didapatkan di pendidikan formal.
Sebagai komplemen berarti pelengkap atau melengkapi. Dimana pendidikan nonformal sebagai pelengkap yang berperan melengkapi apa-apa yang diajarkan dalam pendidikan formal. Sebagai substitusi berarti pengganti atau menggantikan. Dimana pendidikan nonformal berperan sebagai pengganti/menggantikan pendidikan formal karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan formal/pendidikan sekolah.
Nah jadi segitu dulu yaa Pembahasan mengenai Konsep Dasar tentang Pendidikan Masyarakat,Semoga kalian suka ya............
Komentar
Posting Komentar